Menjelang
Idul Adha, Umat Islam mulai sibuk mempersiapkan hewan kurban untuk di kurbankan
ntah kambing, domba, sapi, kerbau, maupun unta. Diantara hewan-hewan kurban
tersebut, Islam mengunggulkan kambing dibandingkan yang lainnya. Daging kambing
adalah daging merah yang paling banyak di konsumsi di dunia. Kelezatannya memang
menggoda setiap orang. Namun, banyak mitos dan klaim medis bahwa daging kambing
berbahaya. Benarkah hal tersebut?
Ø
Apakah
Daging Kambing Berbahaya?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
اتخذوا الغنم
فإن فيها بركة
"Peliharalah
(manfaatkan) kambing, karena didalamnya terdapat keberkahan" (HR. Ahmad
no.26113).
Dalam hadist tersebut disebutkan
bahwa didalam daging kambing mengandung keberkahan. Sesuatu yang Rasulullah
katakan memiliki keberkahan, tidak mungkin menimbulkan bahaya bagi umatNya. Apa
yang sudah disyariatkan tentu bermanfaat dan tidak berbahaya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir
As-Sa’di rahimahullah berkata dalam risalahnya,
الدين مبني على المصالح في جلبها و الدرء
للقبائح
“Agama dibangun atas dasar berbagai
kemashlahatan, mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”.
Informasi yang beredar dimasyarakat
bahwa daging kambing bisa menyebabkan naiknya tekanan darah dan kolesterol. Hal
ini bisa jadi karena pengolahan daging yang tidak sehat, misalkan menggunakan
bumbu yang berlebihan hingga mineral dan vitaminnya hilang dan menyebabkan
senyawa negatif didalamnya. Kemudian karena berlebihan dalam mengonsumsi daging
kambing, apa saja yang sifatnya berlebihan ia akan berbahaya bagi kesehatan. Dan
pola hidup dizaman sekarang yang tidak sehat.
Ø
Aroma
Kambing mengandung obat terapi bagi orang-orang stres
Aroma kambing bisa jadi sesuatu
yang tidak sedap bagi orang banyak, tapi tahukah kawan bahwa hewan yang
beraroma tidak sedap ini bisa membantu menenangkan pikiran, menghilangkan
stres, membuat pikiran lebih santai, dan menjadi lebih bahagia. Sekarang ini
banyak yang memakai kambing sebagai terapi untuk orang stres dengan mencium
aromanya.
Ø
Mampu
Mendidik Kepemimpinan Melebihi ilmu Leadership Manapun
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلاَّ رَعَى
الْغَنَمَ » . فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ « نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى
قَرَارِيطَ لأَهْلِ مَكَّةَ »
“Tidak ada Nabi kecuali pernah
menjadi penggembala kambing.” Mereka para sahabat bertanya, “Apakah engkau juga
wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Iya, saya telah menggembala dengan imbalan
beberapa qirath (mata uang dinar, pen.) dari penduduk Mekah.” (HR. Bukhari, no.
2262).
Kenapa setiap Nabi adalah seorang
penggembala kambing? Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hikmah di balik penggembalaan
kambing sebelum masa kenabian tiba adalah agar mereka terbiasa mengatur kambing
yang nanti dengan sendirinya akan terbiasa menangani problematika umat manusia.
(Fath Al-Bari, 4:441). Kalau sukses menggembala kambing, maka nantinya akan
mudah mengatur manusia kelak saat menjadi seorang nabi.
Dengan menggembala kambing akan
melatih kesabaran dalam menyantuni dan mengayomi, selain itu juga menunjukan rasa
tawadhu sehingga tidak merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Dan dengan
menggembala kambing juga mengajarkan agar tidak bergantung kepada orang lain. Oleh
karena itulah kenapa kambing bisa mendidik kepemimpinan melebihi leadership
manapun.

Tidak ada komentar: